Kamis, 20 Oktober 2016

Awal Bisnis Frame Foto, dari Kredit Baju


Bisnis ini berawal dari kredit baju. Aneh, ya, kedengarannya? Jualan frame foto kok dari kredit baju. Begitulah, saudara-saudara, Frame Foto Depok tidak akan menjadi seperti sekarang kalau tidak diawali dari menjual baju secara kredit.

Awalnya kami menawarkan pakaian anak dan dewasa kepada tetangga dan kerabat kami. Untuk menarik hati pembeli, kami melonggarkan cara pembayaran dengan memberikan kredit. Rupanya para pelanggan menyukainya. Mereka pun mulai meminta barang-barang lain, seperti telepon seluler, televisi, AC, dan kulkas, untuk dibayar dengan cara mencicil. Hasilnya lumayan juga!

Suatu hari, seorang adik yang sudah lama menggeluti usaha frame foto, yang juga pelanggan setia baju dagangan kami, meminta kami membelikan bahan untuk frame foto karena ia sedang kehabisan modal. Jumlahnya cukup besar bagi kami. Namun, dengan niat baik, kami pun memberikannya. Permintaan lalu merembet ke bahan-bahan lainnya. Hingga akhirnya ia menyatakan menyerah dan ingin menjual usahanya kepada kami untuk membayar utang-utangnya. Bismillah, setelah mencari dana ke sana ke mari, akhirnya usaha frame foto pun berpindah tangan. Adik yang semula menjadi bos kini menjadi karyawan kami. Tak apalah, yang penting asap dapur bisa tetap ngebul dengan aman.

Mengelola usaha yang sudah hampir bangkrut ternyata tidak mudah. Mulai dari mencari supplier bahan-bahan mentah dengan harga termurah hingga pemasaran menjadi masalah yang cukup pelik. Apalagi kampung tempat adik tinggal di wilayah Kelapa Dua, Depok, memang merupakan sentra usaha frame foto. Masalah persaingan usaha tidak terhindarkan. Namun, satu per satu masalah itu dapat kami lalui dengan baik. Dengan pengalaman menjadi penjual baju door to door, kenekatan, dan muka tembok, pelanggan frame foto kami semakin banyak, bahkan hingga ke luar kota.

Rambah Luar Kota

Pada awal-awal mencari pelanggan, kami menawarkan kepada penjual lukisan, kaligrafi, dan foto tokoh-tokoh nasional yang banyak bertebaran di beberapa sentra pedagang kaki lima di Jakarta. Dari mereka, kami mendapat banyak pesanan frame foto untuk mereka salurkan lagi kepada pihak lain. Belum puas dengan pelanggan dalam kota, kami menebar jaring hingga luar kota, bahkan luar Jawa.

Studio foto serta toko buku dan ATK menjadi sasaran berikutnya. Berbekal rekomendasi dari kenalan-kenalan baru kami, sahabat lama, serta bertanya pada Mbah Google, kami mempromosikan produk kami lewat telepon satu per satu. Ada yang berhasil, banyak juga yang gagal. Kata orang, semakin banyak gagal, semakin dekat Anda pada keberhasilan. Percaya saja dulu lah.

Tak hanya pedagang, pelanggan kami pun banyak yang merupakan end user. Biasanya mereka mendatangi workshop kami atau menitipkan gambar atau poster untuk dipasangkan frame foto. Lumayan untuk jajan sehari-hari atau bonus karyawan.

Kini, usaha frame foto kami sudah memberikan hasil yang lumayan. Mesin-mesin dan peralatan lainnya sudah kami tambah dan perbarui. Karyawan kami sudah mencapai sembilan orang. Kami pun sudah memiliki sarana untuk mengirim barang sendiri. Jika pesanan tidak mampu lagi kami tangani, kami mengambil pasokan dari sesama produsen di sekitar kami sehingga bisa turut menghidupi usaha mereka yang sudah mulai kembang kempis. Orang-orang yang ingin ikut menjadi tenaga pemasaran pun berdatangan.

Permintaan juga semakin beragam. Di samping frame foto yang umum di pasaran, kami mulai menjual frame untuk seserahan. Bisa jadi, di waktu mendatang, kami membuka usaha wedding organizer mengingat kebutuhan frame foto yang tinggi di bidang usaha tersebut.

Berminat menjadi reseller kami? Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar